SEJARAH negara Zionis Israel penuh kekejaman, teror dan kekerasan terhadap orang-orang sipil. Teror itu berlangsung secara massif dan keji. Rakyat sipil Palestina harus mengungsi secara besar-besaran untuk menyelamatkan diri. Tanah dan rumah-rumah yang telah ditinggalkan bangsa Palestina kemudian diduduki dan dijadikan permukiman Yahudi.
Dalam situs www.tragedipalestina.com digambarkan fakta kebiadaban teroris zionis Israel. Dalam situs itu diungkapkan pada 1948, Moshe Dayan, yang kemudian menjadi menteri pertahanan, memimpin pembantaian di Masjid Dahmash yang menyebabkan 100 orang Palestina syahid, 60 ribu orang mengungsi, dan 350 orang lebih akhirnya juga meninggal dalam perjalanan. Dalam tahun yang sama, Zionis juga melakukan pembantaian di Salha dengan cara menggiring penduduk masuk ke dalam masjid dan kemudian membakarnya. Sekitar 105 warga Palestina syahid.
Yang lebih biadab lagi adalah pembantaian di Deir Yassin yang dilakukan oleh organisasi teroris Irgun dan Stem, yang dipimpin Menachem Begin yang kemudian menjadi PM Israel. Pada malam 9 April 1948, rumah-rumah penduduk di Deir Yassin dibakar dan semua orang yang mencoba melarikan diri dari api ditembak mati. Selama serangan ini, wanita-wanita hamil dicabik perutnya dengan bayonet, anggota tubuhnya dipotong-potong, dan lainnya diperkosa. Sekitar 52 orang anak-anak disayat-sayat tubuhnya di depan mata ibunya, lalu mereka dibunuh secara keji. Lebih dari 280 warga Palestina syahid di tangan zionis.
Bagaikan cerita bersambung yang memilukan, teror zionis atas Palestina tidak pernah berhenti. Pembantaian terjadi di Qibya (1953: 96 syahid), Kafr Qasem (1956: 49 syahid), Khan Yunis (1956: 275 syahid), Gaza (1956: 60 syahid), Fakhani (1981: 150 syahid), Masjid Aqsa (1990: 11 syahid dan 800 terluka), Masjid Ibrahimi (1994: 50 syahid), Qana, Lebanon (1996: 109 syahid) dan lain-lain. Belum lagi pembantaian zionis atas bocah-bocah Palestina dalam intifadhah.
Israel Berkomplot dengan Phalangis Kristen
Di antara operasi teroris Zionis itu yang paling terkenal kebiadabannya adalah pembantaian pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila, Lebanon tahun 1982 yang merenggut nyawa lebih dari 3.000 warga Palestina. Arsitek pembantaian itu adalah Ariel Sharon yang bekerja sama dengan kelompok Phalangis Kristen, Lebanon. Dengan dalih mencari pejuang Palestina, para pengungsi yang tidak bersenjata, tanpa membedakan usia dan jenis kelamin, diberondong senjata otomatis secara membabi buta.
Kaburnya kebenaran dan tegasnya ketidakadilan menjadi bayang-bayang di Sabra dan Shatila.
Pembantaian Sabra dan Shatila terjadi pada September 1982, di Beirut, Lebanon, yang saat itu diduduki oleh Israel. Pembantaian ini dilakukan oleh para milisi Kristen Maronit Lebanon atas para pengungsi Palestina di kamp-kamp pengungsi Sabra dan Shatila. Pasukan-pasukan Maronit berada langsung di bawah komando Elie Hobeika yang belakangan menjadi anggota parlemen Lebanon, dan pada tahun 1990-an juga menjadi seorang menteri di kabinet Lebanon.
Sepanjang peristiwa ini, kamp-kamp ini dikepung oleh tentara-tentara Israel, dan para milisi itu dikirim oleh Israel untuk mencari anggota-anggota PLO. Sejauh mana Israel bersalah dalam pembantaian ini banyak diperdebatkan, dan Israel menyangkal bahwa pihaknya bertanggungjawab langsung. Namun temuan-temuan membuktikan bahwa orang-orang Israel, antara lain Ariel Sharon, secara tidak langsung bertanggungjawab.
![]() |
Salah seorang penyintas dalam peristiwa ini, Amal al-Qirmi baru berusia 15 tahun ketika ia dan keluarganya melarikan diri dari rumah di salah satu distrik, yang tak jauh dari kamp pengungsi Palestina di Lebanon Selatan.
Mereka mengungsi lantaran ada pasukan dari milisi Saad Haddad.
Haddad adalah bekas tentara nasional Lebanon yang saat itu memimpin sekitar 400 pasukan militer di Lebanon selatan dan menamai kelompoknya sebagai Tentara Lebanon Selatan.
Mereka berkongsi dengan Israel sebab tujuan yang sama, yakni menentang kehadiran orang-orang Palestina di wilayah Lebanon selatan.
Sikap dan pandangan kelompok Haddad juga disetujui beberapa partai di Lebanon lainnya.
Sebut saja Partai Phalang, sebuah partai Kristen sayap kanan di Lebanon dengan anggota mayoritas para Kristen Maronit.
“Mereka menipu kita,” kenang al-Qirmi dalam sedihnya.
“Mereka memberi tahu kami melalui pengeras suara bahwa siapa pun yang pergi meninggalkan kamp, akan diizinkan kembali pulang kampung ke Palestina,” ungkap al-Qirmi.
“Warga di kamp percaya akan perintah penuh kebohongan itu yang diceritakan oleh orang Israel dan agen Lebanon mereka,” ingatnya lagi.
“Ketika penduduk menuruti perintah, mereka malah diserang dan disembelih dengan cara yang tak terbayangkan sebelumnya,” sambungnya.
Amal al-Qirmi adalah seorang warga Palestina penyintas tragedi Sabra dan Shatila, dan tragedi berdarah itu paling membekas di ingatan dan kehidupannya.
Setelah pembantaian keji itu, Ariel Sharon mendapat julukan dari berbagai media sebagai 'Tukang Jagal Timur Tengah'. Kebiadaban Zionis Israel tampaknya tidak ada yang mampu menyamainya, sekalipun dibandingkan dengan kekejaman Hitler dan Slobodan Milosevic di Bosnia Herzegovina.
Oce Satria/Berbagai sumber


