M Natsir Berkawan Akrab dengan Musuh Politiknya


Natsir dan Kawan "Tak Sehati"

Dipa Nusantara Aidit, Ketua Comite Central Partai Komunis Indonesia, adalah musuh ideologi nomor satu Mohammad Natsir. Aidit memperjuangkan tegaknya komunisme di Indonesia. Natsir sebaliknya. 

Tokoh Masyumi itu menginginkan negara dijalankan di atas nilai-nilai Islami. Pertentangan ini membuat keduanya sering berdebat keras di ruang sidang Dewan Perwakilan Rakyat dan Konstituante. Natsir sering tidak bisa mengendalikan emosi ketika berdebat dengan Aidit di Parlemen. Dia katakan ingin menghantam kepala Aidit dengan kursi.

Namun, hingga rapat selesai, tak ada kursi yang melayang ke kepala Aidit. Malah, begitu meninggalkan ruang sidang, Aidit membawakannya segelas kopi. Keduanya lalu ngerumpi tentang keluarga masing-masing. itu terjadi berkali-kali. Kalau habis rapat tak ada tumpangan, Natsir sering dibonceng sepeda oleh Aidit dari Pejambon.

Keakraban penuh warna, bersahabat tapi berseberangan secara ideologis, terjadi sejak 1945 hingga zaman demokrasi liberal, 1950-1958. Pada masa itu parlemen menjadi tempat pertarungan ideologi yang tak habis-habisnya.

Natsir pun tidak cuma bertentangan dengan Aidit. Di seberang dia juga ada tokoh Partai Katolik seperti I.J. Kasimo dan F.S. Hariyadi, serta J. Leimena dan A.M. Tambunan dari Partai Kristen Indonesia. Sementara Natsir membela ideologi Islam, Kasimo dan teman-teman berkeras mempertahankan Pancasila.

Toh, seperti pada Natsir dan Aidit, mereka tetap berkawan di luar ruang sidang. Ketika Natsir mengajukan Mosi Integral dalam sidang Parlemen Republik Indonesia Serikat pada 3 April 1950, justru tokoh-tokoh nonmuslim inilah yang tegak di belakangnya. 

Dalam pidato yang berapi-api, Natsir menegaskan pentingnya melebur kembali wilayah-wilayah Republik Indonesia Serikat ke dalam Negara Republik Indonesia.

Natsir memberikan wejangan tentang kepemimpinan, saat menjadi Perdana Menteri. Seorang pemimpin harus seperti tukang kayu yang terampil: bisa memanfaatkan semua jenis kayu.

Barangkali itulah sebabnya, Natsir merangkul tokoh-tokoh Kristen dalam Kabinet Natsir (1950-1951). Hariyadi dia tunjuk menjadi Menteri Sosial. Herman Johannes-tokoh Kristen dari Partai Indonesia Raya-mendapat kepercayaan memimpin Departemen Pekerjaan Umum.[]


Mochammad Yani.
Sumber
Buku "Natsir.Politik Santun diantara Dua Rezim"

Indonesia Tempo Doeloe

Keterangan foto: dari kiri IJ.Kasimo, M.Natsir, DN.Aidit

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.