ADA sebagian orang kalau pidato suka kepanjangan. Kalau sudah di depan mikropon suka lupa daratan. Kurang sensitif dengan kejenuhan hadirin.
Ini satu contoh pidato seorang Kabid Diknas di acara perpisahan sebuah sekolah:
"Assalamualaikum wrwb... bla bla..bla" (17 menit)
"....terakhir saya sampaikan, bahwa....bla ..blaaa" (10 menit)
"demikian saja sambutan dari saya..... kepada panitia saya ucapkan...... dan untuk anak-anakku tetaplah fokus belajar walau sudah tamat dr sini, karena.....bla..bla.....blaa (13 menit)
" Yang terakhir sekali, mudah-mudahan perjuangan para guru, walimurid dan kita semua menjadi catatan penting bagi kelangsungan pendidikan, sebab......bla..bla..bla..(17/menit)
"Sekian saja yang dapat saya sampaikan, meskipun ditengah kesibukan saya, saya sempatkan datang demi sekolah ini. Sebenarnya hari ini saya.....bla..bla..bla (6 menit)
" saya sudahi dengan pantun, karena kita tinggal di bumi melayu.....bla..bla..bla . terima kasih wassalamualkum warahmatullahi wabarakatu." (11 menit)
Begitulah.
Jadi, buat Anda yang kebetulan jadi pejabat, kepala ini ketua itu, kalau pidato mbok ya ingat bahwa hadirin bosan dengar pidato panjang lebar.
Okelah, saya jadi ikut-ikutan kepanjangan. Tak afdol kalau tak saya sudahi dengan pantun:
Daripada berladang ke Singgalang,
Elap lah berladang ke Tandikat.
Ambil sekarung lada muda.
Daripada direntang namuh panjang,
Elap digumpal naknya singkat,
Ambil sekadar keperguna.
Wassalam.
Pengamat Pidato..
Oce

